Dadan Saputra
FORUM DISKUSI ANGGGARAN KABUPATEN BANDUNG
PENGANTAR
Masalah budaya
politik di Indonesia masih tetap merupakan sebuah topik kajian yang sangat
menarik , sekalipun kkajian tersebut akhir –akhir ini kurang lagi mendapat
minat kalangan ilmuwan politik Indonesia. Hal itu terjadi karena beberapa hal :
Khususnya Budaya Politik di Kabupaten Bandung apakah tidak terpengaruh oleh budaya politik Nasional ( Indonesia ), atau terbentuk dengan sendirinya atau terproses dan bagai mana perwujudannya . Pertanyaannya apakah pembentukan pola budaya politik Indonesia berpengaruh dan bersifat positif atau negative terhadap pembentukan civil society di Kabupaten Bandung dalam menyongsong proses demokratisasi dimasa yang akan datang?
BUDAYA POLITIK : MAKNA DAN PERWUJUDANNYA
Selain itu, salah satu factor penompang lahirnya BEHAVIORAL REVOLUTION ini adalah muncul dan berkembangnya kecenderungan baru dalam dunia penelitian, yaitu kecenderungan untuk mengadakan penelitian survey (Survey Ressearch ) . penelitian ini dapat menjangkau responden dalam jumlah yang sangat besar, guna memahami sikap, orientasi dan prilaku kalangan masyarakat disertai latar belakang sosial, ekonomi, dan politiknya. Biasanya penelitian survey tersebut dilakukan oleh mereka yang terlibat dalam uasaha menelusuri opini public dalam rangka pemilihan Presiden, Gubernur, senator di Amerika Serikat. Oleh karena itu, tidak heran di Amerika Serikat muncul sejumlah lembaga peneliti opini public dengan mengadakan pengumpulan pendapat atau yang dikenal denngan Publik Opinion Poll , seperti Gallup Poll, Haris Poll, dan biasanya mereka bekerja sama denngan media masa yang ada seperti ABC, CBS,NBC dan CNN selain itu Amerika Serikat muncul sebuah Revolusi Baru dalam bidang Rekayasa dan Teknologi ketika diketemukan Komputer yang dapat menganalisis data dalam waktu yang cepat dan dalam jumlah yang besar serta dalam waktu yang singkat
Salah satu dampak yang sanngat menyolok dari BEHAVIORAL REVOLUTION munculnya sejumlah teori, baik yang bersifat grand maupun yang pada tingkat menengah ( middle level theory ). Kemudian, ilmu politik diperkaya dengan sejumlah istilah, seperti misalnya system analysis, interest aggregation, interest articulation, political sozialization, politik culture, convertion, rule making, rule aflication, rule adjudication dan lain sebagainya.
Teori tentang BUDAYA POLITIK merupakan salah satu bentuk teori yang dikembagkan dalam memahami sistem politik. Teori Sistem Politik yang diajukan oleh David Easton, yang mewarnai kajian ilmu politik pada kala itu ( 1950 – 1970 ). Dan di antara kalanngan teoritisi dalam ilmu politik yang sangat berperanan dalam mengembagkan teori KEBUDAYAAN POLITIK adalah GABRIEL ALMOND dan SIDNEY VERBA, ketika keduanya melakukan kajian di LIMA NEGARA yang kemudian melahirkan buku yang sangat berpengaruh pada 1960-an dan 1970-an, yaitu The Civic Culture .1 Civic Culture inilah yang menurut Almond dan Verba merupakan Basis bagi budaya politik yang memebentu DEMOKRASI .
Budaya Politik, kata Almond dan Verba, merupakan sikap individu terhadapa SISTEM POLITIK dan komponene komponennya, juga sikap individu terhadap peranan peranannya yang dapat di mainkan dalam sebuah SISTEM POLITIK ( 1963,h,13 ). Budaya Politik tidak lain daripada orientasi psikologis terhadap objeck sosial, dalamhal ini sistenm politik kemudian dalam mengalami proses INTERNALISASI ke dalam bentuk orientasi yang bersifat COGNITIVE, AFFECTIVE dan EVALUATIVE.
ORIENTASI KOGNITIVE MENYANGKUT PEMAHAMAN DAN KEYAKINAN INDIVIDU TERHADAPA SISTEM POLITIK DAN ATRIBUTNYA. Bisa di artikan seperti tentang Ibukota Negara, Lambang Negara, Kepala Negara Batas2 Negara, mata Uang yang dipakai dan lain sebagainya. Sementara Orientasi yang bersifat Afectif menyanngkut ikatan emotional yang dimilki oleh individu terhadap system politik. Jadi menyangkut feelings terhadap system politik. Sedangkan yang menyanngkut kapasitas individu dalam memberikan penilaian terhadap system politik dan bagai mana peranan individu di dalamnya.
Terbentuknya Budaya politik seperti itu yang berbeda. Dalam sebuah masyarakat yang sikap orientasi politiknya didominasi oleh karakteristik yan bersifat kognitif akan terbentuk budaya politik yang parochial. Sedangkan yang bersifat affective akan terbentuk budaya politik yang bersifat subjective.
Akhirnya, masyarakat yang memiliki kompetansi politik yang tinggi, dimana warga masyarakkat mampu memberikan evaluasi terhadap proses politik yang berjalan. Dan akan terbentuk sebuah BUDAYA POLITIK yang PARTISIPATIF.
BUDAYA POLITIK yang domokratik, dalam hal ini Budaya Politik yang Partisipatif, akan mendukung terbentuknya sebuah sistenm politik yang demokratik menyangkut “ suatu kumpulan system keyakinan, sikap, norma, persepsi dan sejenisnya, yang menompang terwujudnya partisipasi “ ( Almond dan Verba ( h.178 ). Keyakinan akan kemampuan seseorang merupakan kunci bagi sebuah sikap politik, dan keyakinan akan kemampuan tersebut meerupakan kunci bagi terbentuk dan terpelihara demokraasi. Jadi kompetensi merupakan kata kunci. Konsekwensi selanjutnya Pemerintah harus mengambil langkah – langkah yang memperhatikan kepentingan warga masyarakat. Kalau tidak warga masyarakat akan mengalami deprivasi. Kecewa dan meninggalkan pemerintahnya. Sebaliknya apabila warga tidak merasa kompeten untuk terlibat dalam proses politik , implikasinya Pemerintah dalam penyelenggaraan Negara menjaadi dominan.
Almond dan Verba mengaitkan antara tinggi – rendahnya Budaya Politik RAKYAT MENJADI SASARAN DAN OBJECK KEBIJAKAN PEMERINTAH YANG DAPAT DI MMANIPULATIF. Disini MENJADI SUMBER UTAMA TERBENTUKNYA BUDAYA POLITIK YANNG DEMOKRATIF, yaitu CIVIL CULTURE DENGAN KEHADIRAN DEMOKRASI DALAM SEBUAH NEGARA AKAN MENOMPANG DEMOKRASI YANG STABIL. Bukan sebaliknya.
Pemikiran atau gagasan Almond dan Verba, banyak mendapat kritikan yang cukup keras terutama dari kalangan akademisi terutama menyangkut pilihan metodologi yang dipakai pengukuran gejala yang ada, untuk itu kemudian mengkoordinasi sejumlah ahli dari kalanngan akademisi yang sampai saat ini belum terbahas secara menyeluruh , dan baru mengumpulkan catatan catatan yang diberi judul THE POLITICAL CULTURE REVISITED ( 1980 ).
2. Sosialisasi Politik Sebagai Wahana Pembentukan Budaya Politik
Proses pembentukan Budaya Politik dilakukan melalui apa yang disebut sebagai sosialisasi Politik , Yaitu, proses penerusan dan pewarisan nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sistem Nilai, Norma, dan keyakinan yang dimiliki oleh sebuah generasi dapat diturunkan kepada generasi berikutnya melalui berbagai media , seperti : keluarga, sanak saudara, kelompok, sekolah, ditopang oleh media cetak, elektronik dan lain sebagainya yang bisa di sebut sebagai agent dari sosialisasi politik.
Keluarga merupakan agent pertamna yang sanngat menentukan pola pembentukan nilai polkitik bagi sesorang individu.Dalam keluarga dalam linglungan agama, ditanamkan nilai – nilai agama yang sangat tinggi dengansegala atribut yang melekat didalamnya. Dari situlah sikap dan orientasi politik melekat dan terbentuk
Dalam sebuah system dimana Negara memainkan peranan yang sangat dominan, bahkan monopolitis, dalam pembentukan nilai – nilai dan norma politik. Maka norma dan keyakinan yang di yakini oleh penguasa Negara. Oleh karena itu segala sesuatu yang berbeda dengan kehendak Negara disingkirkan. Sebalknya , alam sebuah Negara yang memberikan peluang kepada masyarakat yang memiliki tingkkat kompetensi yang tiunggi pula , yang sangat diperlukan bagi pembenukan Budaya POolitik Ynag demokratis dan Stabil.
- Penjelasan yang bersipat kultural dalam memahami politik Indonesia kurang refresentatif bila dibandingkan dengan penjelasan bersifat lain. Penjelasan yang bersifat cultural dipersepsikan terlampau berorientasi kepada prilaku terhadap kelompok politik sebuah etnik dominan di Indonesia, terutama etnik tertentu, sehingga tidak dapat dijadikan parameter dalam memahami politik Indonesia kontemporer yang sudah semakin kompleks.
- Ketika memasuki decade 80-an, kalangan ilmuwan politik sudah mulai dihapkan pada penjelasan bersifat alternative, yang dianggap lebih representative denngan tinngkt generalisasi yang tinggi. Sementara itu, penjelasan yang bersifat alternative , yang dianggap lebih representative dengan tingkat generalisasi yang tinnggi. Sementara itu penjelasan yang bersifat cultural memperlihatkan wajah yang etnosentris dan parochial. Penjelaasan alternative yang muncul dikenal dengan pendekatan ekonomi politik, yang juga bersifat strukturalis yang mencoba mengaitkan antara persoalan politik dengan masalah ekonomi .
- untuk menjelaskan politik Indonesia, apakah model penjelasan yang bersifat cultural atau structural , sekaranng kita dihadapkan pada kenyataan munculnya sebuah model analisis yang dapat dikatakan juga sebagai alternative , yaitu analisisn yang lebih memperhatikan peranan civil society. Hal itu mulai Nampak ketika memasuki decade 1990-an, banyak sekali kalangan –akademisi, politisi, pengamat sipil dan militer – yang berbicara tentang CIVIL SOCIETY denngan pemahaman sendiri – sendiri
Khususnya Budaya Politik di Kabupaten Bandung apakah tidak terpengaruh oleh budaya politik Nasional ( Indonesia ), atau terbentuk dengan sendirinya atau terproses dan bagai mana perwujudannya . Pertanyaannya apakah pembentukan pola budaya politik Indonesia berpengaruh dan bersifat positif atau negative terhadap pembentukan civil society di Kabupaten Bandung dalam menyongsong proses demokratisasi dimasa yang akan datang?
BUDAYA POLITIK : MAKNA DAN PERWUJUDANNYA
- Budaya Politik
Selain itu, salah satu factor penompang lahirnya BEHAVIORAL REVOLUTION ini adalah muncul dan berkembangnya kecenderungan baru dalam dunia penelitian, yaitu kecenderungan untuk mengadakan penelitian survey (Survey Ressearch ) . penelitian ini dapat menjangkau responden dalam jumlah yang sangat besar, guna memahami sikap, orientasi dan prilaku kalangan masyarakat disertai latar belakang sosial, ekonomi, dan politiknya. Biasanya penelitian survey tersebut dilakukan oleh mereka yang terlibat dalam uasaha menelusuri opini public dalam rangka pemilihan Presiden, Gubernur, senator di Amerika Serikat. Oleh karena itu, tidak heran di Amerika Serikat muncul sejumlah lembaga peneliti opini public dengan mengadakan pengumpulan pendapat atau yang dikenal denngan Publik Opinion Poll , seperti Gallup Poll, Haris Poll, dan biasanya mereka bekerja sama denngan media masa yang ada seperti ABC, CBS,NBC dan CNN selain itu Amerika Serikat muncul sebuah Revolusi Baru dalam bidang Rekayasa dan Teknologi ketika diketemukan Komputer yang dapat menganalisis data dalam waktu yang cepat dan dalam jumlah yang besar serta dalam waktu yang singkat
Salah satu dampak yang sanngat menyolok dari BEHAVIORAL REVOLUTION munculnya sejumlah teori, baik yang bersifat grand maupun yang pada tingkat menengah ( middle level theory ). Kemudian, ilmu politik diperkaya dengan sejumlah istilah, seperti misalnya system analysis, interest aggregation, interest articulation, political sozialization, politik culture, convertion, rule making, rule aflication, rule adjudication dan lain sebagainya.
Teori tentang BUDAYA POLITIK merupakan salah satu bentuk teori yang dikembagkan dalam memahami sistem politik. Teori Sistem Politik yang diajukan oleh David Easton, yang mewarnai kajian ilmu politik pada kala itu ( 1950 – 1970 ). Dan di antara kalanngan teoritisi dalam ilmu politik yang sangat berperanan dalam mengembagkan teori KEBUDAYAAN POLITIK adalah GABRIEL ALMOND dan SIDNEY VERBA, ketika keduanya melakukan kajian di LIMA NEGARA yang kemudian melahirkan buku yang sangat berpengaruh pada 1960-an dan 1970-an, yaitu The Civic Culture .1 Civic Culture inilah yang menurut Almond dan Verba merupakan Basis bagi budaya politik yang memebentu DEMOKRASI .
Budaya Politik, kata Almond dan Verba, merupakan sikap individu terhadapa SISTEM POLITIK dan komponene komponennya, juga sikap individu terhadap peranan peranannya yang dapat di mainkan dalam sebuah SISTEM POLITIK ( 1963,h,13 ). Budaya Politik tidak lain daripada orientasi psikologis terhadap objeck sosial, dalamhal ini sistenm politik kemudian dalam mengalami proses INTERNALISASI ke dalam bentuk orientasi yang bersifat COGNITIVE, AFFECTIVE dan EVALUATIVE.
ORIENTASI KOGNITIVE MENYANGKUT PEMAHAMAN DAN KEYAKINAN INDIVIDU TERHADAPA SISTEM POLITIK DAN ATRIBUTNYA. Bisa di artikan seperti tentang Ibukota Negara, Lambang Negara, Kepala Negara Batas2 Negara, mata Uang yang dipakai dan lain sebagainya. Sementara Orientasi yang bersifat Afectif menyanngkut ikatan emotional yang dimilki oleh individu terhadap system politik. Jadi menyangkut feelings terhadap system politik. Sedangkan yang menyanngkut kapasitas individu dalam memberikan penilaian terhadap system politik dan bagai mana peranan individu di dalamnya.
Terbentuknya Budaya politik seperti itu yang berbeda. Dalam sebuah masyarakat yang sikap orientasi politiknya didominasi oleh karakteristik yan bersifat kognitif akan terbentuk budaya politik yang parochial. Sedangkan yang bersifat affective akan terbentuk budaya politik yang bersifat subjective.
Akhirnya, masyarakat yang memiliki kompetansi politik yang tinggi, dimana warga masyarakkat mampu memberikan evaluasi terhadap proses politik yang berjalan. Dan akan terbentuk sebuah BUDAYA POLITIK yang PARTISIPATIF.
BUDAYA POLITIK yang domokratik, dalam hal ini Budaya Politik yang Partisipatif, akan mendukung terbentuknya sebuah sistenm politik yang demokratik menyangkut “ suatu kumpulan system keyakinan, sikap, norma, persepsi dan sejenisnya, yang menompang terwujudnya partisipasi “ ( Almond dan Verba ( h.178 ). Keyakinan akan kemampuan seseorang merupakan kunci bagi sebuah sikap politik, dan keyakinan akan kemampuan tersebut meerupakan kunci bagi terbentuk dan terpelihara demokraasi. Jadi kompetensi merupakan kata kunci. Konsekwensi selanjutnya Pemerintah harus mengambil langkah – langkah yang memperhatikan kepentingan warga masyarakat. Kalau tidak warga masyarakat akan mengalami deprivasi. Kecewa dan meninggalkan pemerintahnya. Sebaliknya apabila warga tidak merasa kompeten untuk terlibat dalam proses politik , implikasinya Pemerintah dalam penyelenggaraan Negara menjaadi dominan.
Almond dan Verba mengaitkan antara tinggi – rendahnya Budaya Politik RAKYAT MENJADI SASARAN DAN OBJECK KEBIJAKAN PEMERINTAH YANG DAPAT DI MMANIPULATIF. Disini MENJADI SUMBER UTAMA TERBENTUKNYA BUDAYA POLITIK YANNG DEMOKRATIF, yaitu CIVIL CULTURE DENGAN KEHADIRAN DEMOKRASI DALAM SEBUAH NEGARA AKAN MENOMPANG DEMOKRASI YANG STABIL. Bukan sebaliknya.
Pemikiran atau gagasan Almond dan Verba, banyak mendapat kritikan yang cukup keras terutama dari kalangan akademisi terutama menyangkut pilihan metodologi yang dipakai pengukuran gejala yang ada, untuk itu kemudian mengkoordinasi sejumlah ahli dari kalanngan akademisi yang sampai saat ini belum terbahas secara menyeluruh , dan baru mengumpulkan catatan catatan yang diberi judul THE POLITICAL CULTURE REVISITED ( 1980 ).
2. Sosialisasi Politik Sebagai Wahana Pembentukan Budaya Politik
Proses pembentukan Budaya Politik dilakukan melalui apa yang disebut sebagai sosialisasi Politik , Yaitu, proses penerusan dan pewarisan nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sistem Nilai, Norma, dan keyakinan yang dimiliki oleh sebuah generasi dapat diturunkan kepada generasi berikutnya melalui berbagai media , seperti : keluarga, sanak saudara, kelompok, sekolah, ditopang oleh media cetak, elektronik dan lain sebagainya yang bisa di sebut sebagai agent dari sosialisasi politik.
Keluarga merupakan agent pertamna yang sanngat menentukan pola pembentukan nilai polkitik bagi sesorang individu.Dalam keluarga dalam linglungan agama, ditanamkan nilai – nilai agama yang sangat tinggi dengansegala atribut yang melekat didalamnya. Dari situlah sikap dan orientasi politik melekat dan terbentuk
Dalam sebuah system dimana Negara memainkan peranan yang sangat dominan, bahkan monopolitis, dalam pembentukan nilai – nilai dan norma politik. Maka norma dan keyakinan yang di yakini oleh penguasa Negara. Oleh karena itu segala sesuatu yang berbeda dengan kehendak Negara disingkirkan. Sebalknya , alam sebuah Negara yang memberikan peluang kepada masyarakat yang memiliki tingkkat kompetensi yang tiunggi pula , yang sangat diperlukan bagi pembenukan Budaya POolitik Ynag demokratis dan Stabil.
BUDAYA POLITIK DI INDONESIA
1.
Hierarki yang tegar
Sebenarnya, sangat sulit untuk melakukan indentifikasi budaya
politik Indonesia, karena atributnya
tidak jelas. Akan tetapi , satu hal yang barangkali dapat dijadikan titik tolak
untuk membicarakan masalah ini adalah adanya sebuah pola budaya yang dominan ,
yang berasala dari kelompok etnis yang
dominan pula yaitu kelompok etnis
tertentu. Yang sangat mewarnai sikap, prilaku, dan orientasi kalanngan politik elite politik di Indonesia.
Charli Holt, Benedict Anderson, dan
James SIegal menulis Politikal Culture
in Indonesia .2., pembicaraan awal yang dikemukakan adalah menyangkut konsep kekuasaan dalam masyarakat tertentu khususnya di Jawa.
Menurutnya ( Anderson ) konsep kekuasaan
dalam masyarakat Jawa berbeda sekali denngan apa yag di pahami oleh masyarakat
Barat, Karena , bagi masyarakat Jawa , kekuasaan itu bersifat kongkrit ,
besaranya konstan, sumbernya homogeny, dan tidak berkaitan denngan persoalan
legitimasi, hal itu berbeda dengan masyarakat BARAT dimana kekuasaan itu bersipat abstrak dan dari berbagai macam sumber, seperti uang,
harta kekayaan, fisik, kedudukan, asal usul, dan lain sebagainya. Dan selama
sumber kekuasaan itu tetap memberikan kekuasaan, maka kekuasaan seorang
penguasa akan tetap legitimate dan tidak pelu di persoalkan.
Masyarakkat tertentu di Indonesia sebagian besar masyarakat
lainya , pada dasarnya bersifat hierarkis. Stratifikasi sosial bukan
didasarkan atas atribut sosial yang
bersifat metrialistik, tetatpi lebih dari pada akses kekuasaan. Ada pemilahan
yang tegas anatara mereka yang memegang kekuasaan yang juga disebut sebagai kalangan
priyayi , dan itu diperlihatkan
dalam cara berepreksi bahasa dan gesture atau pola memperlihatkan
mimic/prilaku, yang diwujudkan lewat bahasa. Kromo inggil, kromo madya, sampai
ngoko atau halus setengah halus dan kasar. Kalangan rakyat harus mebahasakan
yang halus kepada pemegang kekuasaan. Kemudia diungkapkan denngan istilah wong
gede dan wonng cilik.
Implikasi dari pola pemilahan seperti ini adalah, kalangan
birokrat seringkali menampakan diri dengan Self Image atau citra diri yang
bersifat Benevolent, yaitu dengan ungkapan sebagai pamong praja yang melindungi rakyat, sebagai
among atau guru / pendidik bagi rakyatnya . Aka tetapi, sebaliknya kalangan
penguasa memiliki persepsi merendahkan
rakyat nya..oleh karena itu , tidak ada
tempatnya rakyat tidak patuh, tidak tunduk, dan tidak setia apalagi memprotes
kegiatan pemerintah . pemerintah adalah paling tahu dan rakyat tidak tahu
apa-apa.
Ada implikasi negative dari citra diri seperti itu dalam kebijaksanaan
public. Kebijaksanaan public merupakan
domain atau kompetensi sekelompok kecil elite yang ada di puncak kekuasaan
pusat maupun daerah. Yang membentuk dan memformulasikan kebijakan public adalah
kalangan pemerintah baru disesuaikan dan
disahkan oleh DPR. Rakyat mengalami proses alienasi, bahkan tersingkirkan dari proses politik .3) tidak ada diskusi
public mengapa kebijaksanaan itu harus
ditempuh ? apakah memang perlu? Kemuadian rakyat dalam implementasi
kebijaksanaan , rakyat diwajibkan rakyat
ikut didalamnya . hapir semua undanng – undang
dan peraturan pemerintah dibentuk melalui proses seperti itu, yang
menarik adalah berapa banyak kewenangan yang diberikan kepada pemerintah karena Undang – undang tersebut kemudian harus diwujudkan dengan
Peraturan Pemerintah , suarat Keputusan Presiden, Intruksi Presiden, suarat
keputusan Menteri, Intruksi Menteri, sampai ketingkat Pemrintah yang lebih
rendah. ( seperti seragam, wajib nonton,
piknik di pelabuhan itu dan ini )
2.
KECENDERUNGAN PATRONAGE
Salah satu Budaya Politik yang menonjol di Indonesia adalah
kecenderungan pembentukan pola hubungan patronage, baik dikalangan penguasa
maupun masyarakat, yang di dasarkan atas patronage. Atau, oleh James Scott (
1976 ) disebut sebagai pola hubungan patron-client.
Si Patron dan Client terjadi interaksi yang bersiat resiprokal atau imbal balik
dengan mempeertukarkan sumberdaya (
exchange of resources ) yang dimiliki oleh masing – masing pihak sampai ke
dukungan politis dan loyalitas dan pola hubungan tersebut tetap ang bersifat
dipelihara selama masing – masing pihak tetap memiliki sumber daya tersebut.
Yang menarik untuk diperhatikan, bahwa tidak jarang pula
antara pola hubungan clientilistic ini tumbuh dan berkembang, karena ada orang
ketiga yang menjadi perantara, atau yang disebut sebagai BROOKER atau Middleman
. jelasnya perpolitikan di Indonesia dalpat dilihat dalam diagram sebagai
berikut :
P____________________M/B_________________________CL-----CL------CL---------CL------CL
P = Patron M/B =
Middleman/Brooker CL =
Client
Kecenderungan patronage ini dapat ditemukan secara meluas,
baik dalam linglungan birokrasi maupun dalam kalangan masyarakat. Presiden dengan para Menteri2nya, kemudian
memungsikan dirinya sebagai Brooker atau Middleman terhadap sejumlah menteri
yang lain dan kemudian Menteri – menteri
inilah yang kemudian jadi Client yang ssesungguhnya. Kemudian , para
Menteri itu juga menjadi Middleman dan atau Brooker dan membentuk Client –
client lain kebawahnya dan seterusnya.
Dikalangan partai politik juga ditemukan gejala yang sama.
Seorang gubernur yang menjadi ketua
Dewan Pertimbangan Golongan
Partai, dapat menjadi patron bagi sejumlah politisi, kemudian menjadi
penggurus partai golongan dan akhirnya
menjadi anggoita DPRD, begitupun Bupati MENJADI Ketua Partai Golongan dan seterusnya.
Demikian juga antara penguasa dengan masyarakat pengusaha,
teritama masyarakat pengusaha terutama non-pribumi, tahu betul bagaimana
meladeni kalangan pejabat pemerintah. Tidak jarang mereka membentuk dirinya
sebagai Client untuk memperoleh imbalan
kemudahan dalam berusaha
kontraktor Rumah Sakit Misalnya.
Pola hubungan seperti ini yang kemudian di Indonesia disebut secara popular
sebagai KOLUSI. DAN INI BUKAN MERUPAKAN SESUATU YANG BARU DI Indonesia.
Dari gambaran di atas, sebenarnya kita dapat mengamati, bahwa prilaku
kalangnan birokrat pada masa – masa sekarang ini merupakan kelanjutan dari apa
yang dilakukan oleh pendahulu mereka pada jaman
UWA ( KOLONIAL ).
3.
Kecenderungan Neo-Patrimonialistik
Salah satu kecenderungan yag dapat kita lihat dan amati dalam perpolitikan
Indonesia adalah sebuah kescenderungan
akan munculnya Budaya Politik yang bersifat Neo-Patrimonialistik. Harold Crouch
( 1979) telah mengungkapkan bahwa
kehidupan politik Indonesia dikatakan sebagai Neo-Patrimonialistik, karena
Negara memiliki atribut Modern dan
rasionalistik, seperti Birokrasi. Tetapi memperlihatkan atribut yang bersifat
Patrimonalistik seperti diperagakan pada rezim ORDE BARU yang kekuasaan dari Jakarta samapai ke daerah
– daerah , terlihat sangat personalistik.
BUDAYA POLITIK DI KABUPATEN BANDUNG
“Pembaruan politik tanpa memperhatikan proses penyingkiran hanya akan memperkuat staus quo “( Demokrasi Deliberatif Yang Mensejahterakan JOHN GAVENTA hal.18.)
Seperti hal nya di belahan penjuru Dunia atau bebrapa Daerah di Indonesia, krisis legitimasi menandai hubungan antara warga dan atau warga Negara dengan lembaga – lembaga dan atau pranata – pranata Negara yang mempengaruhi kehidupan mereka terus menerus meningkat (4). Di Kabupaten Bandung, suara kekecewaan – kekecewaan terhadap kinerja Pemerintahan Daerah mulai dari sektor sampai ke wilayah , seperti respon yang rendah terhadap kebutuhan kelompok miskin, tipisnya rasa ketersambungan dengan para wakil rakyat dan aparat pemerintah , ini merupakan bagian dari bentuk ketidak seimbangan yang terus mendalam. Seabreug persoalan di Kabupaten Bandung sebagai akibat dari Budaya Politik yang sistemik yang Imundemik mewabah kepelosok strata intentitas – intentitas wilayah hegemoniliasiae yang bertentacle yang Nampak smart yang secara chemistologos meraksuk ke barbagai strata dan terstruktur, yang tidak mampu lagi terdeteksi bentuk guritanya oleh yang menamakan komunicareable di basis manapun. Budaya patronage berkembang menjadi patronageneticalless kompleks, menjelaga , lumer, membentuk kelompok – kelompok mutan variable.
Rimba persoalan menjadi culturalrisasi di Kabupaten Bandung yang promisable kompleks colossal mewabah ke wilayah akar rumput .
Gejala demikian menjadi ajang ancompetensi parstial pemangku kepentingan 4 -5 tahunan yang secara patronage bukan lagi menggejala, tapi sudah masuk ke culturalisasi terstruktur , yang pembanahannya memerlukan langkah teruas , yang masing - masing ruas membutuhkan ramu – ramu yang tidak bisa dengan anorganik, siap saji, kamuplase aromatical semata, butuh oraganisma pengurai maulai dari ruang – ruang aerob dan anaerob yang dapat terhindarkan dari mutan – mutan yang dapat mereduksi ke wilayah – wilayah akar rumput yang lebih imun dan sulit mengembalikan ke budaya politik yang diinginkan semua fihak.
Karakteristik Pemeritahan Daerah Kabupaten Bandung yang kalau memakai gambaran Max Weber , lebih tepat di gambarkan kepada Pemerintahan Orde Baru yang kekuasaannya personalistik dari pusat sampai ke Daerah, mengeneralisir di Kabupaten Bandung, yang ada sedikit banyak kemiripan dengan Pemerintahan Jawa Tenga, selama sebelum Pemilihan Umum , gaya patrimonialisme Negara Orde Baru, dengan membangun suatu bangunan mercusuar yang sarat dengan nuatan – muatan ketamakan sebagai representasi dari kekuasaan aji – aji dari segala aji yang pada akhir – akhir ini, menjelang habis masa an-amanah 2010, harus mencari detergent sebagai pembersih amanah yang an-amanah.
Hiruk pikuk, permaklumam dipicu oleh kepentingan – kepentingan yang varigata menjadi hiasan kesehari- harian di Kabupaten Bandung dengan tingkat RAKSUKAN yang mengeluarkan tentacle – tentacle aromatic systemic ke wilayah kultur warga.
Gejala terachir yang menarik untuk dicatat dalam rang Neo – Patrimonialisme ini adalah munculnya Nearest generation dalam Budaya Politik di Kabupaten Bandung, mencari menempatkan diri diposisi – posisi strategis secara politis, muncul melalui rekriutment politik DI Kabupaten Bandung yang tidak terbuka.
Implikasi dari semua karakteristik Budaya Politik seperti yang di gambarkan di atas adalah, kekuasaan yang tidak terkontrol.
E. SOSIALISASI POLITIK : TIDAK MEMUNCULKAN CIVIL SOCIETY
Budaya Politik meerupakan produk dari proses pendidikan atau sosialisasi politik dalam sebauah masyarakat, dengan sebuah sosialisasi politik , individu dalam Negara akan menerima norma, system keyakinan, dan nilai – nilai dari generasi sebelumnya, yang dilakukan melui berbagai tahap dan dilakukan oleh berbagai macam agent, seperti keluarga, dsaudara, teman bermain, sekolah.
Pendidikan Politik DI Kabupaten Bandung tidak memberikan ruang yang cukup untuk memunculkan CIVIL SOCIETY . Yaitu, suatu masyarakat yang mandiri, yang mampu mengisi ruang public, sehingga mampu membatasi kekuasaan Negara yang berlebih – lebihan. Dua alasan kenapa tidak mampu memunculkan CIVIL SOCIETY.
1. DALAM MASYARAKAT Kabupaten Bandung, anaka-anak tidak dididik untuk menjadi insane yangn mandiri, bahkan mengalami alienasi dalam politik KELUARGA. Sejumlah keputusan penting , termasuk tentang nasib, merupakan domain orang dewasa .
2. Tingkat politisisasi sebagian terbesar masyarakat kita sangat rendah. Kalangan keluarga kurang berkecuykupan baik materi maupun yang lainnya. Kurang memiliki kesadaran politik karena meereka lebih terpaku pada kehidupan ekonomi daripada memikirkan segala sesuatu yang bermakna politik dan itu bukan merupakan skala prioritas yang penting, dan baru beersifat kognitif, bukan menyangkut dimensi yang bersifat evaluative.
3. Setiap individu yang berhubungan dengan Negara tidak mempunyai alternative lain kecuali mengikutoi kehendak Negara , termasuk dalam hal pendidikan politik, yang kalau diamati lebih pada penanaman nilai keyakinan yang di yakini oleh penguasa Negara.
F. PENUTUP
Uraian yang dikemukan di atas memberikan gambaran yang sedikit
Pesimisti tentang Budaya Politik di Kabupaten Bandung, dengan Budaya Politik yang di warnai pola hubungan yang sangat hierarkis, kecenderungan Patronage politik yang kuat, serta gejala Neo-Patrimonialistisme, kita tidak dapat berharap banyak akan munculnya proses demoktratisasi yang kuat dan meluas. Pesimisme kita akan semakin menguat ketika kita melihat proses sosialisai dalam linglungan apapun di Kabupaten Bandung, yang tidak menciptakan individu yang mandiri, ditambah lagi dengan tingkat politisasi masayarakat kalangan bawah yang masih sangat rendah. Oleh karena itu. Sosialisasi politik di Kabupaten Bandung belum memberikan ruanng yang cukup untuk memunculnya sebuah CIVIL SOCIETY.
Catatan Kaki
1. Lengkapnya The Civic Culture ; Political Attitude and Democracy in Fine Nation ( Princeton, N.J, Princeton Univesity Press, 1963 ) merupakan haasil Studi dengan melakukan penelitian di 5 Negara .
2. Claire Holt, Bnetict Anderson, and James T Siegel ( Ed), Political Culture in Indonesia ( Ithaca , New York, Cornel University Press 1972 ).
3. Harap perhatikan Karl TheD . Jackson, denngan konsepnya tentang “ Bereuacation In Indonesia ( Berkley California, California University Press , 1978)
4. Max Weber, Economy AND Sosiety an Outline of Interpretative Sosiology, Vol.3 ( New York, Bedminster Press 1968), h.1041.
5. Dalam sebuah pertemuan dengan bkalangan Akademisi, Praktisi dan lain lain.
6. Gafar Afan, transisi menuju Demokrasi, 1999.
7. Dr.Alwi Dahlan 1995, 100.000.000 oranng yang telah mengikuti P4.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar